Minggu, 28 Desember 2014

Berita Ekonomi

Jelang Tutup Tahun, Nilai Tukar Rupiah Perkasa

New York - Sejak sempat melemah hingga ke level Rp 12.900 per dolar AS, rupiah terus menunjukkan penguatan. Di awal pekan terakhir tahun 2015 ini, nilai tukar rupiah bahkan sempat menyentuh level Rp 12.397 per dolar AS.

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, Senin (29/12/2014), menunjukkan nilai tukar rupiah menguat ke level Rp 12.434 per dolar AS. Nilai tukar rupiah menguat 33 poin dari perdagangan sebelumnya pada 24 Desember lalu di level Rp 12.467 per dolar AS.

Sementara data valuta asing (valas) Bloomberg, mencatat nilai tukar rupiah sempat menguat di level Rp 12.400 per dolar AS pada perdagangan pukul 9:50 waktu Jakarta. Hingga menjelang siang, nilai tukar rupiah masih berkutat di kisaran Rp 12.397 per dolar AS hingga Rp 12.463 per dolar AS.

Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia Rangga Cipta menjelaskam, membaiknya data ekonomi AS seiring dengan buruknya data ekonomi Jepang dan Eropa membuat dolar semakin bergerak menguat. Hebatnya, dalam kondisi tersebut, nilai tukar rupiah masih mampu menunjukkan penguatan.

"Bahkan ketika mayoritas mata uang dunia melemah terhadap dolar pekan lalu, rupiah berhasil menguat tajam hingga ke level RP 12.400 per dolar AS," katanya.

Penguatan rupiah juga dapat menjadi peluang bagi pemerintah untuk mengenalkan skema subsidi tetap pada bahan bakar minyak (BBM) tahun depan. Terlebih lagi meningat ruang penguatan nilai tukar rupiah masih cukup terbuka.

RI Bebaskan Bea Ekspor, India Perketat Pajak Impor Minyak Sawit

Kelapa sawit
 India, importir minyak sawit terbesar di dunia, memutuskan untuk menaikkan bea impor minyak sawit mentah dan olahan sebagai upaya untuk melindungi para petani dari jatuhnya harga minyak mentah.
Kenaikan bea impor tersebut diharapkan dapat menaikkan keuntungan dari pemangkasan bea ekspor minyak sawit yang diberlakukan Indonesia dan Malaysia.
Maklum saja, Indonesia dan Malaysia berkontribusi sekitar 86 persen dari total pasokan minyak sawit dunia.
Mengutip laman Bloomberg, Minggu (28/12/2014), bea impor minyak sawit ke India naik dari 2,5 persen menjadi 7,5 persen. Sementara bea impor minyak sawit olahan naik dari 10 persen menjadi 15 persen.
Indonesia telah memutuskan untuk memperpanjang kebijakannya membebaskan bea ekspor minyak sawit selama empat bulan hingga Januari 2015. Sementara Malaysia telah memperpanjang pembebasan bea ekspornya hingga Februari.
Kedua negara penghasil minyak sawit terbesar dunia memang tengah berupaya mengurangi pasokan yang jumlahnya sangat melimpah dalam setahun terakhir.
"Perbedaan bea tersebut dapat membantu menambah valuasi. Impor yang terus meningkat berpotensi mengganggu petani domestik karena mendapatkan harga yang kurang layak," ungkap Direktur Eksekutif Solvent Extractors' Association, B.V. Metha.
Impor kelapa sawit di India memang tercatat meningkat dalam lima bulan terakhir hingga November. Kemungkinan hingga pertengahan Desember, terjadi kenaikkan 13 persen menjadi 8,75 juta ton.

Referensi :
http://bisnis.liputan6.com/read/2153119/ri-bebaskan-bea-ekspor-india-perketat-pajak-impor-minyak-sawit
http://bisnis.liputan6.com/read/2153477/jelang-tutup-tahun-nilai-tukar-rupiah-perkasa


Tidak ada komentar:

Posting Komentar